BULAN DAN SENYUMAN


Saat itu sore menjelang malam. Mendung menutup pergerakan mentari yang menyelinap bersembunyi di sisi barat bumi yang ia pijak. Angin sepoi semilir menyejukkan, menembus kalbu, seolah merasuk dalam dirinya, menuju aliran darah sampai ke otak, mendinginkan kepalanya yang sedang panas. Panas oleh rasa lelah berpikir. Berpikir tentang rumus- rumus kehidupan yang mesti diotak atik untuk menyelesaikan permasalahannya.

Dia adalah seorang gadis. Seorang santri yang sedang merindukan orang tuanya.Rasa rindunya telah akut. Rasa rindu yang menyesakkan nafasnya, membuat basah matanya, menyita senyum yang biasa menghias wajah manisnya.

Dia hanya sendiri saat itu, Seluruh temannya telah pergi,Pulang meninggalkannya di pondok itu,Sendiri…

Pikirannya melayang, berpikir keras, memeras otak. Mencari jalan untuk bisa pulang, bertemu dengan orang- orang yang ia sayang, di tengah keterpurukannya sekarang.Terpuruk??Ya, terpuruk…Lagi- lagi oleh uang,Dompetnya kosong.Eh,, tidak…Masih ada selembar uang di sana, 5000 rupiah.Hanya 5000 rupiah.Sementara untuk pulang , semurah- murahnya ia butuh uang 200 ribu rupiah.

Bagaimana mungkin menyulap uang 5000 rupiah menjadi 40 kali lipat??Sementara hari liburnya hanyalah 3 hari.

Tak mungkin…Otaknya telah sadari itu, tapi seolah hatinya tak terima. Terus saja kepalanya dipaksa oleh kemauan hati untuk terus berpikir. Terus berpikir sepanjang hari itu.

Tak berapa lama, azan berkumandang.Menggetarkan hatinya yang beku, beku oleh kerinduan yang mendalam.Mengangkat wajahnya yang tertunduk dalam,Menggerakkan kakinya, melangkah menuju masjid.

Ia telah keluar lagi ke halaman pondoknya,Setelah sholat maghrib, Makan dengan mi goreng, satu- satunya mi instan yang tersisa,Dan tentu saja sudah sholat isya.

Kali ini dengan suasana berbeda. Awan mendung telah terusir oleh cahaya rembulan. Bulan sabit dengan sejuta bintang yang menemaninya. Tapi angin semilir tetap bertahan di sana, seolah tak ada ujung habisnya, selalu berhembus menusuk kalbunya.

Sejenak terlupakan rasa rindu itu, ketika ia tertegun melihat indahnya bulan itu. Teringat pada percakapannya dengan ayahnya, dulu…“Ayah, bulan itu indah sekali. Kalau sudah besar nanti, aku ingin menjadi astronot. Ingin kupeluk bulan yang indah bercahaya itu. Boleh?”Ayahnya menjawab sembari tersenyum, “tentu saja, setinggi apapun cita- citamu pasti ayah dukung. Selama kau bertahan dengan iman dan taqwamu.”Kemudian ia berkata lagi, ”Insya Allah yah, aku juga pasti akan ajak ayah dan ibu ke bulan. Aku ingin ayah dan ibu bahagia.”Ayahnya tersenyum kembali dan berkata, “tahukah nak, tak perlulah kau ajak ayah ke sana. Ayah selalu dapat melihat keindahan bulan dari dekat. Bahkan yang ayah lihat lebih dekat dari bulan yang kita lihat sekarang ini dan lebih dekat, sedekat ayah melihatmu.”“ Maksud ayah?”“ Senyummu lebih indah dari bulan itu nak. Suatu saat nanti, ketika kita jauh dan kau rindukan ayah dan ibu, lihatlah bulan. Percayalah, ketika itu ayah dan ibu juga sedang melihat bulan itu seperti kami melihatmu dan percayalah kami selalu mengingatmu.”“ Hahahahaha… ayah…. Bulan itu juga akan mengingatkanku pada senyum ayah dan ibu.”

Begitulah, ingatan itu memenuhi benaknya. Membuatnya kembali tersenyum.

Satu hal yang ia sadari saat itu, bahwa ia dan orang tuanya masih melihat bulan yang sama. Dengan sama- sama tersenyum, seolah bulan itu memancarkan senyum mereka. Serasa ia lebih dekat dengan orang tuanya sekarang.Senyumnya telah memudarkan rasa rindu di hatinya. Semangatnya telah kembali.Kini, rindunya telah beralih.Ia merindukan bulan pada setiap malam.

1 komentar:

  1. keren ceritanya ;) jadi kangen orang tuaku,, heheh

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Instagram