Melawan Keterbatasan Tanpa Sinyal & Listrik

Satu setengah tahun kami lalui hidup di tengah keterbatasan signal dan listrik, dua barang yang tidak ada di tempat kami kampung Urbinasopen, distrik Waigeo Timur, Kab. Raja Ampat.

Sejak awal kami tahu bahwa di tempat tugas kami baru ada genset yang menyala hanya setiap malam dengan setoran 5 liter solar per kk setiap hari. Diluar itu apabila genset rusak maka listrik padam hingga genset kembali normal. Oleh karenanya, saat kami datang ke tempat tugas kami membawa solar cell dan aki berukuran kecil untuk tenaga penerangan rumah atau menyalakan lampu. Hingga setelah setengah tahun berlalu kami membawa solar cell berukuran besar dengan aki mobil, untuk penerangan yang lebih baik. Tidak hanya untuk menyalakan lampu, solar cell kali ini juga dapat mencarge hp, powerbank dan laptop di siang hari saat terik matahari. Cukuplah sebagai hiburan, menonton flm di siang hari, dengan laptop atau sekedar main game hape .

Pada awalnya di tempat tugas kami belum ada sinyal telepon. Setiap mau berkomunikasi dengan keluarga  kami harus pergi ke kota. Setelah 1,5 tahun bertugas di Urbinasopen, baru ada pembangunan tower telkomsel. Kini kami dapat telpon dan SMS keluarga, menyambung komunikasi yang sebelumnya terhambat, namun untuk internet belum baik. Sementara hanya sinyal GPRS, jadi untuk mengirim dan menerima pesan whatsapp saja lemot sekali. Untuk keperluan internet kami harus ke kota terutama untuk sinkronisasi dapodik.

Pemenuhan kebutuhan hidup di tmpat tugas juga cukup sulit, Kampung di pesisir pantai ini air sumurnya mengandung kapur, jadi harus diendapakan dulu sebelum dimasak. Sekarang jauh lebih baik dari yang dulu, sekarang ada sumur di dekat tempat tinggal kami. Dulu, selama satu tahun kami tinggal, jauh dari pemukiman warga (kurang lebih 100 meter) dan tidak ada sumur di dekat rumah. Sumur terdekat berjarak 100 meter, sehingga setiap hari untuk keperluan memasak, mck, cuci piring, dan cuci baju semua dilakukan di sumur atau mengambil air dari sumur tersebut untuk dibawa ke rumah.

Kampung Urbinasopen


Kebutuhan pangan juga cukup sulit didapatkan di sini. Mayoritas warga berkebun dan bekerja sebagai nelayan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Kalaupun ada hasil berlebih penjualan hasil kebun dan laut dijual ke kota. Di sini tidak ada pasar. hanya ada satu kios saja yang menjual berbagai kebutuhan ( toko kelontong) dan ada pnjual sayur yang sangat jarang (hanya saat panen). Kami mencukupi kebutuhan pangan dengan berbelanja di kota. Namun kami bersyukur terkadang ada warga masyarakat atau murid kami yang memberikan sayur dari kebunnya atau beberapa ekor ikan dari hasil memancing di laut.

Banyak hal yang harus dilakukan di kota. Setidaknya setiap tiga minggu, kami harus ke kota memenuhi berbagai kebutuhan. Sementara perjalanan ke kota bukanlah hal yang mudah. Tidak ada transportasi umum dari kampung ke kota atau sebaliknya. Kami harus mencari tumpangan pada warga setempat. Kalau ada yang berkepentingan ke kota kami menumpang. Kalau tidak ada, kami harus menunggu sampai ada perahu yang mau ke kota dan bisa kami tumpangi. Kami ke kota dengan menaiki perahu atau longboat sepanjang pesisir di sisi selatan pulau waigeo.

Kota terdekat dari Urbinasopen adalah Waisai, Ibu kota kabupaten Raja Ampat. Bisa juga ke Sorong, akan tetapi harus menyeberang lautan dengan ombak yang lebih besar dari pada ke Waisai. Kami lebih banyak ke kota Waisai dari pada sorong  karena gelombang lautan tidak terlalu besar jika melewati pesisir pulau. Perjalanan dengan perahu membutuhkan waktu 2 sampai 3 jam. Topi dan payung atau mantrol adalah benda yang wajib dipakai di perjalanan karena cuaca yang sangat terik atau hujan yang kecipak air laut yang masuk ke perahu cukup deras.

Yah, inilah perjuangan dan kami menikmatinya. Jika bersyukur, kita akan merasa bahagia. Jadi cukuplah membuat hati kita nyaman dengan syukur atas apa yang kta lalui. Di luar begitu banyak kesulitan dan keterbatasan. Lihatlah......

Kami berada di sini melihat indahnya lautan, merasakan nikmatnya dan menantangnya perjalanan laut dengan perahu terbuka. Melihat lumba-lumba liar melompat, keindahan pulau-pulau, dan birunya langit. Merasakan udara bersih tanpa polusi, melihat ribuan bintang di langit yang jauh lebih jernih dari langit kota, melihat dan mendengar kicau burung-burung kakak tua liar, burung elang dan burung-burung lain di sekitar. Merasakan dekap erat kekeluargaan dari teman seperjuangan, mengenal masyarakat dari suku yang berbeda, dengan bahasa yang berbeda, dengan budaya yang berbeda membuat kami belajar mengenal dan menghargai keragaman Indonesia.

Kami tidak kemana-mana. Kami masih berada di Indonesia, di sudut terluar negara ini, bagian dari negara ini. Sudut yang jauh dari jangkauan tangan padahal sudut ini juga menyimpan kekuatan untuk kemajuan bangsa. (21/3/2017)

3 komentar:

  1. Subhanalloh Nisa... Semoga Alloh senantiasa melindungi Nisa & keluarga di Urbinasopen sana... Semangat Bu Guru... ^^

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Instagram