Program Pemerintah yang satu ini memang istimewa. Makan Bergizi Gratis namanya, atau disingkat MBG. MBG ini konon menjadi salah satu program prioritas presiden. Sejak diluncurkannya, banyak sekali kontroversinya. Ada yang memandang positif, ada pula yang memandang negatif. Kali ini saya ingin membedah seluk beluk MBG dari sudut pandang saya sebagai rakyat biasa.
1. Dapur MBG Ngebul, Ribuan Lapangan Kerja Baru Muncul
Indonesia dikenal sebagai negara
dengan SDM yang sangat melimpah. Sayangnya lapangan kerja yang tersedia belum
menyerap keseluruhannya. Kita sering menjumpai pengangguran di mana- mana.
Bukan saja lulusan SD, SMP, atau SMA, bahkan lulusan perguruan tinggi pun kini
banyak yang masih mencari- cari pekerjaan.
Presiden Indonesia ke- 8
memberikan secercah harapan melalui salah satu programnya yaitu Makan Bergizi
Gratis (MBG). Bermodal anggaran yang sangat besar, tak hanya menyasar satu dua
wilayah, program ini direncanakan terselenggara di seluruh wilayah Indonesia.
Dari kota besar hingga ke pelosok tanah air.
Badan Gizi Nasional (BGN)
ditunjuk sebagai pengelola mega proyek ini. Pendaftaran lowongan pekerjaan
dibuka, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi
(SPPG) dibangun di mana- mana. Berbagai posisi jabatan ditawarkan, mulai dari
Kepala SPPG, ahli gizi, akuntan, dan tentu saja tim dapur yang meliputi
supervisor, juru masak, tim persiapan bahan, tim packing, tim disribusi, hingga
petugas cuci dan sanitasi.
Dengan banyaknya cabang SPPG di
seluruh Indonesia, bayangkan betapa banyaknya tenaga kerja yang terserap di
dalamnya. Meskipun belum bisa memfasilitasi secara keseluruhan, setidaknya
peluang ini memberikan angin segar bagi para pemburu kerja di Indonesia.
Apalagi gaji yang ditawarkan tak main- main. Sistem penggajiannya disesuaikan
Upah Minimum Regional (UMR) setempat, beban kerja, dan banyaknya porsi makanan
yang dilayani.
Tak hanya itu, Kepala SPPG, ahli
gizi, dan akuntan di masing- masing SPPG digadang- gadang akan diangkat menjadi
Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Tawaran yang sangat
menggiurkan meski mendapat banyak kritikan. Kesempatan ini menunjukkan
keseriusan pemerintah dalam mencanangkan MBG.
Seiring dengan berjalannya waktu, pembangunan SPPG di berbagai wilayah terus dilakukan. Pemerataan sedang diusahakan. Harapannya semakin banyak pula tenaga kerja yang terus terserap di dalamnya.
2. MBG Berjalan, Anak Senang, Ibu Tenang
Program MBG telah terealisasi di
berbagai daerah di Indonesia. Banyak yang menyambut positif, tetapi ada pula
yang menolak. Terlepas dari banyaknya kritik dan penolakan yang ada, program
ini terus bergulir.
Tidak sedikit masyarakat
Indonesia yang setuju dengan program ini. Pasalnya MBG tidak hanya menyasar
anak sekolah saja, bahkan balita, ibu hamil, dan ibu menyusui turut
mendapatkannya.
Anak- anak sekolah menerima MBG
untuk makan siang. MBG menyajikan menu dengan gizi seimbang yang terdiri dari
karbohidrat, protein, buah, dan sayuran. Menu yang diberikan pun bervariasi
setiap harinya. Tentu, agar anak- anak tidak bosan dan kebutuhan gizinya
tercukupi. Dengan paket lengkap ini, orang tua tidak perlu lagi sibuk
mempersiapkan bekal anak sekolah. Uang jajan jatah makan siang dapat dialihkan
untuk kebutuhan yang lainnya.
3 3. Menyoroti Kesiapan Sistem Distribusi Program Makan Bergizi Gratis
Saya mendengar, niatan awal dari
program MBG ini untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia
melalui penguatan gizi bagi kelompok rentan, khususnya anak sekolah, balita,
ibu hamil, dan menyusui. Namun, saya agak kecewa.
Saya seorang guru di daerah
terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Merasakan kondisi di pelosok negeri
dengan segala keterbatasan yang ada, program ini sangat menarik dan dinantikan
kehadirannya. Sayangnya, pemerintah mengawali MBG dari kota- kota besar bukan
dari daerah 3T yang notabene lebih membutuhkan program semacam ini. Hingga
kini, menginjak 2026 belum semua wilayah di pelosok Indonesia terjangkau
program MBG. Kami masih menunggu, kami setia menanti. Berharap realisasi MBG
hingga ke pelosok negeri.
4. MBG di Tengah Bayang- Bayang Kasus Keracunan
Program yang digadang- gadang
menjadi solusi kebutuhan gizi, nyatanya tidak sesempurna yang diharapkan. Satu
persatu permasalahan mulai muncul. Salah satunya mencuat ke permukaan, memicu
ledakan emosi dan kritik tajam. Mulai dari satu kasus, berlanjut ke kasus-
kasus selanjutnya. Temanya masih sama, keracunan massal.
Berbagai spekulasi bermunculan
pasca kasus keracunan yang muncul di berbagai daerah. Dugaan kelalaian SPPG
menjadi sorotan utama, bercabang ke berbagai macam hal, seperti jumlah porsi
terlalu besar, jam memasak yang terlalu dini, hingga bahan makanan yang kurang
tersortir dengan baik.
Pemerintah dengan sigap
menanggapinya. Di antaranya sistem tanggap darurat diaktifkan, evaluasi
dijalankan, dan pengawasan diperketat. Beberapa SPPG terkait dihentikan
operasinya sementara, menjalani masa evaluasi.
Anak- anak, orang tua, hingga
masyarakat merasa was- was dengan kejadian demi kejadian yang terjadi. Wajar,
mengingat program ini berkaitan dengan makanan yang notabene masuk dalam sistem
pencernaan. Segala sesuatu tak wajar yang masuk, tentu dapat berakibat fatal.
Saya berharap pemerintah benar-
benar fokus terhadap hal semacam ini. Serius dalam pengawasannya. Jangan sampai
terulang lagi kejadiannya. Karena MBG turut berperan dalam menentukan nasib
penerus bangsa ini nantinya.
5. MBG Maju, UMKM Lesu
Hal terakhir yang ingin saya
bahas adalah masalah UMKM. Sama halnya dengan perbedaan sudut pandang, untung
dan rugi UMKM tidak bisa ditilik hanya dengan sebelah mata. Menyoroti
eksistensi UMKM sebagai dampak dijalankannya MBG, ada dua sisi yang teramati.
Pertama, UMKM yang terlibat atau
bekerja sama dengan SPPG. Tentunya golongan yang pertama ini diuntungkan,
bahkan dapat terus menunjukkan eksistensinya dalam berusaha dan berkarya.
Seiring cerahnya masa depan MBG, secerah itulah peluang UMKM mitra SPPG.
Kedua, UMKM yang tergeser oleh
program MBG. Golongan kedua yang tampak nyata adalah pedagang jajanan sekolah
anak. Dengan berjalannya program MBG, komunitas pedagang jajanan kehilangan
pelanggannya. Tidak ada solusi praktis untuk mereka. Satu- satunya harapan
adalah mengubah haluan. Mengubah target pasar, atau arah bisnisnya. Semoga ada
jalan terbaik bagi mereka yang dihadapkan dalam kesulitan.
Secara keseluruhan, selayaknya
program apapun, “Tidak ada yang sempurna”. MBG adalah sebuah investasi jangka
panjang yang terlalu berharga untuk gagal. Segala kelebihan yang telah
dirasakan manfaatnya harus dipertahankan, sementara kekurangan dan kendala di
lapangan wajib dievaluasi secara berkala. Melalui komitmen perbaikan tata
kelola yang konsisten, saya harap program ini benar-benar dapat menjadi pilar
kokoh dalam mencetak generasi emas yang sehat dan tangguh.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar